Arsip untuk ‘Uncategorized’ Kategori

Diproteksi: Setting dan Instalasi Novell Client Linux

Tulisan ini dilindungi kata sandi. Untuk melihatnya mohon masukkan sandi Anda di bawah ini:


Diproteksi: Depo Panjang

Tulisan ini dilindungi kata sandi. Untuk melihatnya mohon masukkan sandi Anda di bawah ini:


Hujan

Kemarin, sejak pkl 4 pagi, lagi enak-enak tidur terdengar suara petir, saya pikir pertanda akan turun hujan, tetapi nampaknya hanya hujan rintik-rintik saja. Itu di wilayah Jakarta Utara, saya enggak tahu di Jakarta yang lain, apalagi di daerah lain, ada info?

Dan pagi ini pun, mendung masih menggelayuti langit di wilayah saya, dan hujan rintik rintik pun mulai turun, tetapi tidak banyak. Jika kemarin siang hingga malam tidak turun hujan, saya tidak tahu apakah hari ini pun sama?

Apakah saat ini sudah musimnya tiba? Sesekali hujan boleh lah, tetapi kalau hujan terus-terusan … wah bisa berabe he he he… tahu sendiri lah … Jakarta Utara. Perumahan Kelapa Gading saja kerendam apalagi kawasan di sekitarnya. Siap-siap, siap-siap …

Diproteksi: LMT1

Tulisan ini dilindungi kata sandi. Untuk melihatnya mohon masukkan sandi Anda di bawah ini:


Heboh soal keaslian rekaman Adam Air

Sebetulnya saya heran juga, kenapa ada orang yang harus mempersoalkan asli tidaknya rekaman antara Pilot dan Co-pilot menjelang musibah yang terjadi pada Peawat Adam Air beberapa waktu yang lalu.

Ada kepentingan apa, sehingga orang harus mempertaruhkan jabatannya demi sesuatu yang harus ditutupi? Seperti yang dilakukan oleh Menhub Jusman Syafii Djamal yang menyatakan bahwa: rekaman tersebut tidak asli, alias palsu (sumber: detik.com).

Ada kepentingan apa, seorang yang didaulat “pakar telematika” oleh wartawan mau mempertaruhkan reputasinya (yang selama ini kurang bagus di mata para blogger)  dengan pernyataannya bahwa: ada kemungkinan bagian akhir rekaman black box Adam Air direkayasa orang, sehingga harus ditest ulang dengan spectrum analyzer (sumber: okezone.com). Oh ya, kenapa Om Sur ini tidak menangani kasus rekamannya Mas Urip ya? :-)

Padahal orang-orang terdekatnya sendiri seperti:istrinya, meyakini bahwa  teriakan Allahuakbar yang terdengar itu adalah suara suaminya. Demikian juga ayahnya  Co-Pilot Yoga Suyanto, bahwa “suara takbir itu adalah suara anaknya”.

Lah kenapa, harus ngotot untuk menolak?

Ketika mendengar pertama kali rekaman tersebut disebuah blog teman saya,  saya berpendapat: adalah sebuah rekaman yang terlalu sempurna  untuk dibilang tidak asli. 

Saya termasuk orang yang tidak terlalu mengerti soal-soal penerbangan. Adakah sesuatu yang dirugikan ketika informasi ini benar-benar beredar di masyarakat luas? Kalau memang hal ini dianggap sesuatu yang sangat rahasia, kenapa juga harus bocor? Lalu, bagaimana sebetulnya system pengamanan di organisasi tersebut?

Lepas dari persoalan pro dan kontra keaslian rekaman tersebut, satu hal yang bisa saya petik dari mendengar rekaman yang sangat memilukan tersebut adalah: kematian bisa menjemput kita di manapun dan kapanpun.

Satu hal yang harus kita lakukan berdoalah senantiasa sebelum berpergian. Karena melalui doa, artinya kita sudah menyerahkan hidup ini kepada sipemberi dan pemelihara kehidupan. kalaupun harus mati, mati di dalam tangan-Nya.

Seren Taun di Ciptagelar, Gunung Halimun

Kemarin badan saya masih terasa capek banget, soalnya sampai di rumah pukul 2 dini hari. Sedangkan Senin paginya harus mengikuti meeting di Pelindo. Sehingga baru hari ini saya bisa menceritakan kegiatan backpacking saya selama dua hari, Sabtu dan Minggu ke Taman Nasional Gunung Halimun, khususnya  di Kasepuhan Cipta Gelar. Loh memangnya ada apa di sana? Kebetulan di sini ada acara yang namanya Seren Taun. Sebuah kegiatan yang menurut saya sangat menarik. 

Seren Taun adalah pesta panen tahunan secara turun temurun yang disimpan di dalam Leuit si Jimat, yaitu sebuah lumbung komunitas kasepuhan. Sebagai lambang kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat Kasepuhan Cipta Gelar di hutan belantara Gunung Halimun.

Wilayah hutan Gunung Halimun merupakan ekosistem hutan hujan tropis terluas di Pulau Jawa. Saking luasnya, kita akan bingung sendiri jika ke sini, yang mana puncak gunung ini sesungguhnya?. Karena wilayahnya yang berupa punggung gunung yang sambung menyambung  dengan ketinggian bervariasi mulai dari 500 meter dpl hingga 2000 meter dpl. Tambahan lagi, bahwa kawasan ini sejak tahun 2003 sudah disatukan dengan kawasan Gunung Salak menjadi wilayah yang dilindungi, membentang pada tiga wilayah kabupaten, yaitu Bogor, Sukabumi dan Lebak.

Saya sendiri memasuki wilayah ini dari arah Pelabuhan Ratu melalui jalan berbatu nan terjal melalui Desa Sirna Resmi hingga Kasepuhan Cipta Gelar dengan waktu tempuh sekitar 2 jam.

Sebetulnya ada beberapa komunitas Kasepuhan lainnya di kawasan Taman Nasional ini, yaitu: Sirnaresmi, Ciptamulya, Cisitu, Cusungsang, Ciusul, Cibedug, Urug, Cicarucub, Bayah, dan Giru Jaya. Loh koq di Taman Nasional diperbolehkan tinggal? Nah, di sinilah menariknya lokasi ini. Komunitas di sini sudah lebih dulu ada sebelum kawasan ini dijadikan Taman Nasional. Bahkan sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu. Mereka adalah sisa-sisa keturunan pasukan Pajajaran yang kemudian menyingkir ke hutan balantara Halimun karena serangan tentara Kesultanan Banten.  Kepala adat Kasepuhan disebut Abah, yang merupakan keturunan Prabu Siliwangi yang saat ini dipimpin oleh Abah Ugi Sugriana Rakasiwi.

Hal menarik di Kasepuhan Cipta Gelar ini, sebagaimana yang dikemukakan oleh Abah Ugi bahwa penanaman padi hanya ditanam satu kali dalam setahun. Berbeda dengan kawasan lain yang biasanya 1 tahun bisa mencapai 3 kali panen. Setiap hasil panen kemudian disimpan disebuah lumbung yang disebut Leuit di Jimat, yaitu sebuah lumbung komunitas yang menjadi simbol kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat setempat. Menurut Abah Ugi bahwa lumbung ini adalah untuk persediaan makanan yang dapat menghidupi masyarakat kasepuhan selama 2 tahun.

Acara yang berlangsung dari tanggal 1 hingga 3 Agustus 2008 ini, juga dihadiri oleh pejabat Bupati Sukabumi,  cukup meriah. Beberapa pesta rakyat digelar selama 3 hari berturut-turut di antaranya: Jipeng, Topeng, Wayang Golek, Ujungan, Debus, Pantun Buhun, Angklung, Dok-dok lojor, Calung renteng, Celempungan, Karinding, Pencak Silat, Gondang, dsb. Semoga keberadaan dan kelestarian hutan di gunung Halimun dapat terpelihara dan masyarakat di dalamnya menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam membangun ekosistem, dengan tidak saling meniadakan. Seren taun, adalah sebuah kegiatan yang cukup menarik, yang bisa dijadikan sebagai magnet dalam mendukung kegiatan kepariwisataan di Sukabumi dan sekitarnya.

Sebuah pertanyaan yang menggelitik dan ingin saya kemukakan diblog ini untuk didiskusikan, yaitu kebiasaan mereka yang suka pindah (tergantung wangsit yang diterima si Abah) karena setahu saya sebelumnya adalah bertempat di Cipta Rasa, dan sekarang Cipta Gelar. Apakah nantinya tidak akan merusak ekosistem yang ada? Pada tulisan mendatang akan dibahas, bagaimana kearifan mereka dalam memelihara kohesi yang baik antara lingkungan dan keberadaan masyarakat di atasnya.

(Bersambung)

Kabarnya, Keuntungan Telkom Turun

Ya, bagaimana mau untung, kalau layanannya tidak bagus begitu.

Sejak tadi pagi, saya sangat sibuk luar biasa, gara-gara ada masalah dengan koneksi internet, khususnya yang melalui jalur Speedy. Sebetulnya koneksi alternatif di kantor saya ada beberapa di antaranya adalah: CBN, Lintas Arta, dan sebentar lagi dari Biznet yang semuanya berlayanan dedicated. Koneksi 3 jalur Speedy  hanyalah tambahan saja untuk beberapa keperluan tertentu.

Koneksi Speedy yang diputus itu,  tanpa ada pemberitahuan lebih dulu dari pihak Telkom, yang disebabkan karena no berlangganan saya  telah diganti oleh Telkom. Tentu atas masalah ini beberapa computer seharian tidak bisa koneksi ke internet. Banyak complain dari beberapa user atas masalah ini ke saya. Akhirnya saya melaporkan masalah ini ke 147, tetapi rupanya para operator pada bingung, karena data saya tidak ada di sana. Akhirnya saya laporkan langsung masalah ini ke atasannya langsung, baru kemudian diketahui bahwa no ternyata saya berganti. Walah, kenapa sih diganti?

Diperoleh kabar bahwa, memang pelanggan Telkom Speedy sedang dirapihkan administrasinya. Artinya data-data diatas kertas banyak yang tidak sesuai dengan kondisi fisik di lapangan. Dan mungkin data saya ternyata tidak sesuai, yang akhirnya diputus. Kalau diputus kan tentu ada yang berteriak, kalau jalur itu digunakan. Dan dari terikan saya inilah kemudian baru diketahui bahwa jalur saya ternyata ada pelanggannya. Itu kata orang lapangan, sedangkan menurut bagian operator bahwa sudah ada pemberitahuan dari Telkom sejak tanggal 23 Juli 2008, bahwa akan ada maintenance. Loh, siapa yang menerima? Memangnya kirim betulan?

Apapun alasannya buat saya ini adalah hal yang sangat tidak profesional dalam menangani persoalan yang ada di internal Telkom sendiri. Itu sebabnya saya tidak heran jika Laba Telkom merosot (Kompas, 1 Agustus 2008).  Laba bersih yang sebelumnya Rp 6,62 triliun pada semester I tahun 2007, sekarang menjadi Rp 6,29 triliun. Tetapi kabarnya, penurunan tersebut lebih disebabkan oleh berkurangnya penerimaan Telkom dari jaringan fixed line.

Saat ini komunikasi dibanyak perusahaan sepertinya memang lebih banyak menggunakan aplikasi messenger seperti halnya Skype atau Yahoo atau MSN, sebagaimana di kantor saya. Berbeda dengan sebelumnya, Jika dulu untuk komunikasi dari kantor pusat ke kantor cabang maupun sebaliknya, atau cabang dengan cabang melulu menggunakan komunikasi telepon. Tetapi saat ini benar-benar tidak lagi, bahkan boleh dibilang tinggal tersisa 5 persennya saja. Itupun hanya digunakan oleh Managemen saja.

Kembali kepada persoalan Speedy, semoga Telkom dapat memperbaiki layananya. Jangan sampai dikemudian hari karena layanan yang buruk akan semakin menurunkan keuntungan Telkom.

Halaman Berikutnya »