//
you're reading...
Uncategorized

Seren Taun di Ciptagelar, Gunung Halimun

Kemarin badan saya masih terasa capek banget, soalnya sampai di rumah pukul 2 dini hari. Sedangkan Senin paginya harus mengikuti meeting di Pelindo. Sehingga baru hari ini saya bisa menceritakan kegiatan backpacking saya selama dua hari, Sabtu dan Minggu ke Taman Nasional Gunung Halimun, khususnya  di Kasepuhan Cipta Gelar. Loh memangnya ada apa di sana? Kebetulan di sini ada acara yang namanya Seren Taun. Sebuah kegiatan yang menurut saya sangat menarik. 

Seren Taun adalah pesta panen tahunan secara turun temurun yang disimpan di dalam Leuit si Jimat, yaitu sebuah lumbung komunitas kasepuhan. Sebagai lambang kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat Kasepuhan Cipta Gelar di hutan belantara Gunung Halimun.

Wilayah hutan Gunung Halimun merupakan ekosistem hutan hujan tropis terluas di Pulau Jawa. Saking luasnya, kita akan bingung sendiri jika ke sini, yang mana puncak gunung ini sesungguhnya?. Karena wilayahnya yang berupa punggung gunung yang sambung menyambung  dengan ketinggian bervariasi mulai dari 500 meter dpl hingga 2000 meter dpl. Tambahan lagi, bahwa kawasan ini sejak tahun 2003 sudah disatukan dengan kawasan Gunung Salak menjadi wilayah yang dilindungi, membentang pada tiga wilayah kabupaten, yaitu Bogor, Sukabumi dan Lebak.

Saya sendiri memasuki wilayah ini dari arah Pelabuhan Ratu melalui jalan berbatu nan terjal melalui Desa Sirna Resmi hingga Kasepuhan Cipta Gelar dengan waktu tempuh sekitar 2 jam.

Sebetulnya ada beberapa komunitas Kasepuhan lainnya di kawasan Taman Nasional ini, yaitu: Sirnaresmi, Ciptamulya, Cisitu, Cusungsang, Ciusul, Cibedug, Urug, Cicarucub, Bayah, dan Giru Jaya. Loh koq di Taman Nasional diperbolehkan tinggal? Nah, di sinilah menariknya lokasi ini. Komunitas di sini sudah lebih dulu ada sebelum kawasan ini dijadikan Taman Nasional. Bahkan sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu. Mereka adalah sisa-sisa keturunan pasukan Pajajaran yang kemudian menyingkir ke hutan balantara Halimun karena serangan tentara Kesultanan Banten.  Kepala adat Kasepuhan disebut Abah, yang merupakan keturunan Prabu Siliwangi yang saat ini dipimpin oleh Abah Ugi Sugriana Rakasiwi.

Hal menarik di Kasepuhan Cipta Gelar ini, sebagaimana yang dikemukakan oleh Abah Ugi bahwa penanaman padi hanya ditanam satu kali dalam setahun. Berbeda dengan kawasan lain yang biasanya 1 tahun bisa mencapai 3 kali panen. Setiap hasil panen kemudian disimpan disebuah lumbung yang disebut Leuit di Jimat, yaitu sebuah lumbung komunitas yang menjadi simbol kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat setempat. Menurut Abah Ugi bahwa lumbung ini adalah untuk persediaan makanan yang dapat menghidupi masyarakat kasepuhan selama 2 tahun.

Acara yang berlangsung dari tanggal 1 hingga 3 Agustus 2008 ini, juga dihadiri oleh pejabat Bupati Sukabumi,  cukup meriah. Beberapa pesta rakyat digelar selama 3 hari berturut-turut di antaranya: Jipeng, Topeng, Wayang Golek, Ujungan, Debus, Pantun Buhun, Angklung, Dok-dok lojor, Calung renteng, Celempungan, Karinding, Pencak Silat, Gondang, dsb. Semoga keberadaan dan kelestarian hutan di gunung Halimun dapat terpelihara dan masyarakat di dalamnya menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam membangun ekosistem, dengan tidak saling meniadakan. Seren taun, adalah sebuah kegiatan yang cukup menarik, yang bisa dijadikan sebagai magnet dalam mendukung kegiatan kepariwisataan di Sukabumi dan sekitarnya.

Sebuah pertanyaan yang menggelitik dan ingin saya kemukakan diblog ini untuk didiskusikan, yaitu kebiasaan mereka yang suka pindah (tergantung wangsit yang diterima si Abah) karena setahu saya sebelumnya adalah bertempat di Cipta Rasa, dan sekarang Cipta Gelar. Apakah nantinya tidak akan merusak ekosistem yang ada? Pada tulisan mendatang akan dibahas, bagaimana kearifan mereka dalam memelihara kohesi yang baik antara lingkungan dan keberadaan masyarakat di atasnya.

(Bersambung)

Diskusi

6 thoughts on “Seren Taun di Ciptagelar, Gunung Halimun

  1. ikutan green peace ya mas? atau walhi?

    Enggak koq, cuma hobby backpacker aja.

    Posted by kishandono | Agustus 6, 2008, 5:47 am
  2. Budaya peninggalan jaman siliwangi masih relatif terjaga, namun saya masih rancu antara budaya Sunda dengan budaya Banten, apakah sama atau dua budaya yang terpisah ya pak.

    Kalau soal ginian, kayanya sampeyan akhlinya lah … he he he…

    Posted by laporan | Agustus 6, 2008, 7:58 am
  3. maksud brpindah pindah ini mereka membangun huma dan bukannya sawah ?

    Posted by uwiuw | Agustus 7, 2008, 3:35 pm
  4. ternyata banyak juga blogger yang backpacker ya?

    Posted by Ikkyu_san | Agustus 10, 2008, 12:26 am
  5. saya mau kesana gimana caranya ya… tertarik nih ada yang bisa bantu?

    Posted by rully | Oktober 8, 2008, 3:24 am
  6. Alhamdulillah.. Semoga masyarakat cepat tanggap dan paham, betapa pentingnya kearifan lokal itu perlu dilestarikan.. Amin! Kami juga mohon pemerintah daerah dan pusat tidak perlu serta merta membuat undang-undang atau peraturan yang akan mempersulit hak adat masyarakat setempat.

    Posted by Djenambang Bin Tandjak | Januari 5, 2010, 4:36 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip

Blog Stats

  • 443,412 hits
Agustus 2008
S S R K J S M
« Jul   Sep »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031
%d blogger menyukai ini: